Respon Bakteri Gram Negatif

RESPON BAKTERI GRAM NEGATIF PADA GINJAL TERNAK IKAN LELE DUMBO YANG DOMINAN DIBERI PAKAN USUS AYAM TERHADAP BEBERAPA ANTI BIOTIK

Diikutsertakan Dalam Lomba Karya Tulis Ilmiah 
Yang ditaja oleh : 
Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia Dan Bank Bumi Putera
Tahun 2005

Oleh : AZRANI ERY SAPUTRA

I. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Usaha budidaya ikan akhir-akhir ini menunjukkan peningkatan yang semakin pesat. Perkembangan ini memicu munculnya usaha-usaha semi intensif yang berpotensi dalam penyebar luasan hama dan penyakit ikan, hal ini merupakan kendala yang cukup besar dikarenakan minimnya pengetahuan petani tentang penanganan terhadap penyakit dan ketidak pedulian mereka terhadap keterkaitan faktor-faktor yang memicu munculnya penyakit tersebut. Seperti yang dikatakan oleh SACHLAN (1952) bahwa penyakit (ikan) yang timbul merupakan hasil interaksi yang sangat komplek antara ikan,lingkungan, organisme parasit.
Telah kita fahami bersama bahwa serangan wabah penyakit ikan dapat menyebabkan kematian masal yang sangat merugikan petani, sehingga produksi ikan menurun dan bisa jadi hal itu dapat menurunkan mutu ikan itu sendiri. Beberapa kasus yang terjadi akibat serangan wabah penyakit di Indonesia telah banyak merugikan para petani.
Sebagian besar pengelolaan kolam yang dilakukan oleh para petani ikan kurang memperhatikan faktor penunjang untuk keberhasilkaan usaha mereka. Terkadang, dengan padat tebar ikan yang cukup tinggi didalam kolam, penanganan pemberian makanan tidak diperhatikan sebaik mungkin sehingga muncullah permasalahan penyakit dari pakan yang tidak diolah dengan baik, apalagi pakan yang diberikan merupakan pakan tambahan seperti sisa-sisa makanan dan usus-usus hewan.
Kondisi ini kebetulan penulis alami langsung ketika melihat salah seorang petani ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) yang mengalami kematian ikannya ketika ketika memberikan pakan tambahan pada ikan tersebut dengan menggunakan usus ayam. Akibat serangan penyakit ini tidak semua kegiatan budidaya yang di lakukan masyarakat pada umumnya berhasil, malah sebagian besar mengalami kerugian yang cukup besar .
Untuk itu sangat diperlukan kerja keras para akademisi terutama para peneliti untuk melakukan pengujian dan percobaan dengan melakukan Identifikasi penyakit ikan yang merupakan salah satu syarat dalam program rencana pengontrolan dan teknik penyelidikan penyakit ikan yang disebabkan oleh parasit, lingkungan maupun oleh bakteri.
Hal utama dalam mengidentifikasi penyakit ikan adalah pengambilan sampel ikan sakit dari semua stok ikan baik yang berada dikolam maupun ditempat lain untuk melakukan pemeriksanaan terhadap parasit, bakteri serta penyakit yang menyerang ikan, sehingga keadaan itu bisa mengcover menyeluruh konsep analisa penyakit ikan yang ditawarkan dalam pengamatan ini.

1.2. Tujuan dan manfaat
1. Melihat jenis bakteri (patogen atau tidak) melalui pewarnaan gram.
2. Untuk melihat sensitifitas bakteri biakan yang berasal dari ginjal ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus) terhadap beberapa antibiotik.
3. Diharapkan dapat memberikan informasi pada para petani ikan yang dominan menggunakan pakan tambahan berupa usus dalam menggunakan antibiotik untuk penanggulangan dan pengobatan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
RAHARDJO (1994) mengatakan bahwa penyakit dapat diartikan sebagai suatu gangguan fungsi atau terjadinya perubahan anatomi kimia atau fisiologi organ tubuh. Penyebabnya dapat dibedakan atas penyebab biologis dan penyebab non biologis. Penyakit yang disebabkan oleh faktor biologis disebut sebagai penyakit infeksi, baik disebabkan oleh virus, bakteri maupun parasit. Penyakit non biologis disebut sebagai penyakit non infeksi yang dapat disebabkan oleh faktor genetik, lingkungan maupun kekurangan gizi.
TASLIHAN et al. (1991) menambahkan penyakit dapat didefinisikan sebagai proses yang menyebakan keadaan yang tidak normal atau tidak sehat yang biasanya ditandai ole gejala-gejala tertentu yang mempengaruhi organ tubuh.
YASSIN (1991) mengemukakan bahwa penyakit adalah akibat adanya interaksi antara beberapa faktor yaitu lingkungan, kondisi udang, dan patogen. Jadi penyakit timbul sebagai akibat kualitas lingkungan yang jelek dan ikan tidak mempu menyesuaikan diri lalu stress disusul terinfeksinya ikan oleh patogen.
Bakteri adalah organisme satu sel yang mempunyai daerah penyebaran relatif luas, sehingga hampir dapat dijumpai diseluruh tempat dimana saja. Bakteri mempunyai ukuran yang relatif lebih besar dari pada virus, yaitu antara 0,3-0,5 mikron (AFRIANTO dan LIVIAWATY, 1992). Dan mereka juga menambahkan bahwa bakteri patogen dapat ditumbuhkan dalam media buatan seperti agar darah atau trypticase soy dimana koloninya dapat dilihat dengan mata telanjang. Bakteri ada yang bergerak dan ada yang tidak bergerak. Dan selanjunya ia menerangkan bahwa berdasarkan reaksi sel bakteri terhadap pewarnaan warna gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi bakteri gram negatif (terlihat berwarna pink atau merah) dan bakteri gram positif (terlihat berwarna biru). Kebanyakan bakteri patogen ikan termasuk golongan gram negatif, seperti Aeromonas, pseudomonas, flexibacter dan vibrio.
selanjutnya menurut
Sifat ideal yang dimiliki oleh suatu antibiotik adalah mempunyai kemampuan untuk merusak atau menghambat mikroorganisme patogen spesifik (PELCZAR dan CHAN, 1988)
SOETOMO (1990) membagi penyakit atas dua golongan yaitu parasit yang disebabkan oleh bakteri, jamur, virus, metazoa, cacing dan bangsa udang-udangan. Penyakit non parasit disebabkan oleh pengaruh lingkungan baik fisik, kimia, maupun biologis yang tdak cocok bagi kehidupan ikan dan disebabkan juga oleh pengaruh makanan yang tidak baik.
LUKISTIYOWATI, (2000) Pewarnaan bakteri adalah suatu prosedur pemberian warna pada sel bakteri dengan cat bilogis. Didnding sel dan membran sitoplasma bakteri memliliki afinitas terhadap cat bilogis seperti methilen blue (mb), crystal violet atau cat lainnya. Hal ini tergantung pada tebal an tipisnya dinding sel, kandungan lemak dan sifat lainnya. Penggolongan bakteri dengan pewarnaan gram dapat dibedakan berdasarkan tamilan warna serl bakteri tersebut. Dimana bakteri dikatakan gram negatif apabila tampilan bakterinya bewarna merah dan bakteri bersifat garam positif apabila tampilan selnya bewarna ungu atau biru. Dengan pewarnaan bakteri ini maka kita bisa mengetahui bentuk sel bakteri tersebut.
Hasil pengamatan pengecatan dan marfologi sel sudah dapat digunakan sebagai alat diagnosis yang sangat berarti untuk bakteri tertentu karena adanya ciri khusus yakni adanya gram negatif dan gram positif. (LUKISTIYOWATI, 2005)
 Uji clear zone dilakukan untuk mengetahui efektifitas suatu obat (anti biotik) untuk membunuh bakteri dengan melihat adanya zona hambatan pada biakan bakteri (LUKISTYOWATI, et.al. 2005)

III. BAHAN DAN METODE

2.1. Waktu Dan Tempat
Penelitian ini dilaksanakan mulai 19-24 September dilanjutkan 10-13 Oktober 2005, bertempat di Laboratorium Penyakit dan Parasit Ikan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau Pekanbaru.

2.2. Alat dan Bahan
2.2.1. Ikan Sampel dan Media Tumbuh Agar
Ikan sampel yang digunakan sebanyak 6 ekor dan dari dari keenam ekor ekor ikan tersebut diambil 1 ekor untuk dibedah guna mendapatkan bakteri biakan pada ginjalnya. Ikan sampel diperolah dari kolam didaerah Labuh Baru Pekanbaru Riau.
Untuk media tumbuh bakteri yang digunakan dalam percobaan ini yaitu TSA (Tripticase Soya Agar) dan TSB (Tripticase Soya Bruth).

2.2.2. Isolasi Bakteri
Adapun alat yang digunakan adalah Lampu bunsen, Cawan petri yang sudah terisi media TSA, Alkohol, Label, Jarum Ose, dan ikan sampel untuk diambil bakterinya yaitu ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus).

2.2.3. Pewarnaan Gram
Adapun alat yang digunakan adalah objek glass, Lampu spritus, Mikroskop sedangkan bahan yang digunakan adalah Cat pewarna gram yakni Kristal Violet, Iodium,Lughol, Alkohol,Safranin, Minyak emersi dan mikroskop.

2.2.4. Uji Clear Zone
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah Cawan Petri yang berisi media padat (steril) yakni TSA, Lampu Bunsen dan Jarum Ose sedangkan bahannya adalah biakan Bakteri yang telah disimpan pada media TSB miring, serta berbagai jenis anti biotik seperti Cloramenicol,Clindamycin, Cepadrocsil, Tetracyclin, Erytromycin,Amoxilin, Lyncomycin, Rifampisin dan Tiamphenicol. Masing-masing dengan dosis 250 mg dalam 1 ml aquades.

2.3. Metode Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pengamatan langsung yakni dengan melakukan uji clear zone dengan memberikan antibiotik pada bakteri dalam media biakan dan mengamati hasilnya.

2.4. Prosedur Kerja
2.4.1. Pengamatan Gejala Penyakit Ikan
Sampel ikan yang berasal dari kolam pembesaran yang dominan diberi dengan pakan usus ayam yang diduga telah sakit kemudian dilumpuhkan terlebih dahulu lalu diperiksa dengan mengamati gejala klinis eksternal seperti gerak ikan, kulit, sirip, kemudian gejala klinis internal yakni ginjal dengan cara membedah ikan tersebut.
2.4.2. Isolasi Bakteri
Siapkan lampu spritus, jarum Ose, medium padat (TSA) dan alkohol, inkubasi secara aseptik dengan menggoreskan jarum ose yang steril pada luka, kemudian goreskan pada medium agar dalam petri disk, usaplah sel selaput ginjal dengan kapas yang telah dibasahi alcohol kemudian dengan jarum ose, inokulasi pada medium. Lalu inkubasi dengan suhu kamar selama kurang lebih 13 – 24 jam lalu amati pertumbuhan koloni.
Pengamatan internal dengan mengamati bagian organ dalam tubuh ikan setelah ikan dibedah yakni organ ginjal. Kemudian ambil jarum ose lalu sterilkan dan goreskan pada bagian organ ginjal dan digoreskan pula ke media agar dan di inokulalasikan dalam inkubator dengan suhu 28 – 300 C selama kurang lebih 18 – 24 jam.
2.4.3. Pengamatan Gram Bakteri
Tempatkan satu jarum ose pada bakteri diatas gelas objek yang bersih. buatlah suspensi dengan mencampurkan setetes air suling steril dengan sebagian koloni bakteri yang telah dioles pada objek glass, dan sebarkan sehingga menjadi sedian yang tipis. Biarkan sediaan kering udara. Fiksasi sedian tersebut dengan melintaskan sedikit diatas nyala api hingga sediaan melekat pada objek glass dan tidak lepas bila dicuci. Sediaan sudah siap untuk diwarnai.
Teknik pewarnaan bakteri yakni genangi preparat dengan larutan karbol gentian dengan violet (Kristal Violet) selama 1-2 menit lalu cat dibuang yakni membersihkannya dengan air kemudian teteskan dengan larutan iodine selama 1-2 menit lalu cat dibuang yakni membersihkannya dengan air lalu teteskan dengan Lughol selama 1-2 menit lalu cat dibuang yakni membersihkannya dengan air kembali kemudian teteskan dengan dengan alkohol selama 1 menit sambil digoyang. Cuci sediaan dengan air, genangi sedian dengan safranin selama 1menit, cuci dengan air dan kering udarakan, periksa dibawah mikroskop dengan minyak emersi.
2.4.4. Uji Clear zone
Biakan bakteri yang berasal dari ginjal ikan digoreskan secara zig zag pada cawan petri dengan posisi rapat pada media agar untuk mendapatkan biakan bakteri, antibiotik diencerkan dengan air aquades sebanyak 250 mg dalam 1 ml air. Untuk kertas saring dapat digunting bulat – bulat dengan diameter kurang lebih 0,5 mm kemudian celupkan kedalam larutan antibiotik yang telah diencerkan, secara aseptik tanamkan kertas tersebut pada cawan petri yang berisi bakteri, inkubasi pada inkubator selama 18 – 24 jam. Amati apabila ada zona hambatan maka bakteri tersebut sensitif terhadaop obat antibiotik.
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Pengamatan Gejala Penyakit Ikan
Ikan yang menjadi objek pengamatan pada penelitian ini adalah ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus), Setelah diamati, ikan ini menunjukkan gejala klinis sebagai berikut; gerakan ikan lambat, terdapat luka pada sirip ikan (sirip punggung, ekor) dan luka dibeberapa bagian tubuhnya. Hal ini menunjukkan bahwa ikan ini secara marfologi diduga terinfeksi parasit.

4.2.2. Isolasi Bakteri
Isolasi bakteri bertujuan untuk mengasingkan bakteri pada jaringan tubuh ikan. Pada isolasi bakteri ini untuk sampel adalah ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) dimana organ yang digunakan untuk strike bakteri adalah bagian ginjal yang diambil lendirnya yang kemudian dioleskan pada media TSA (Triptic soya Agar) secara zigzag dengan menggunakan jarum ose. Setelah dilakukan isolasi bakteri dan diinkubasi selama kurang lebih 24 jam dalam suhu kamar. Bakteri tersebut juga nantinya dapat disimpan pada TSB miring dan dapat bertahan kurang lebih sekitar 4 bulan.

3.1.2. Pengamatan Gram Bakteri
Pewarnaan bakteri adalah suatau prosedur pemberian warna pada sel bakteri dengan cat bilogis. Seperti yang dikatakan oleh LUKISTYOWATI, 2000 bahwa pengamatan gram dilakukan untuk mengetahui reaksi dinding sel bakteri terhadap pengawetan gram yang dilakukan pewarnaan. Dinding sel dan membran sitoplasma bakteri memliliki afinitas terhadap cat bilogis seperti methilen blue (mb), crystal violet atau cat lainnya. Hal ini tergantung pada tebal dan tipisnya dinding sel, kandungan lemak dan sifat lainnya.
Penggolongan bakteri dengan pewarnaan gram dapat dibedakan berdasarkan tampilan warna sel bakteri tersebut. Dimana bakteri dikatakan gram negatif apabila tampilan bakterinya bewarna merah dan bakteri bersifat gram positif apabila tampilan selnya bewarna ungu atau biru. Dengan pewarnaan bakteri ini maka kita bisa mengetahui bentuk sel bakteri tersebut.
Setelah dilakukan pengerjaan dengan prosedur pengamatan gram bakteri ini maka didapatkan hasil berupa olesan berwarna pink dan disimpulkan bahwa bakteri pada pengamatan ginjal ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) ini merupakan gram negatif.
Tabel 1: Bentuk Bakteri dan Hasil Pewarnaan gram dari masing-masing Organ ikan Lele Dumbo yang diperiksa
NO
NAMA ORGAN
BENTUK
WARNA
1
Luka Besar
Cocus
Pink
2
Ginjal Besar
Bentuk Tidak jelas
Pink
3
Luka Kecil
Spiral
Pink
4
Ginjal Kecil
Bentuk Tidak jelas
Pink
Hal ini seperti yang dikatakan oleh AFRIANTO dan LIVIAWATY, (1992) bahwa berdasarkan reaksi sel bakteri terhadap pewarnaan gram, bakteri dapat dikelompokkan menjadi bakteri gram negatif (terlihat berwarna pink atau merah) dan bakteri gram positif (terlihat berwarna biru).
3.1.3. Uji Clear Zone
Uji Clear Zone adalah untuk mengetahui efektifitas suatu obat untuk membunuh bakteri dengan cara melihat daerah (zona) hambatan yang dihasilkan oleh anti biotik. Anti biotik merupakan suatu zat yang dihasilkan organisme dalam jumlah kecil yang dapat membunuh organisme lain seperti mikroba sesuai yang diperkenalkan, dimana Sifat ideal yang dimiliki oleh suatu antibiotik adalah mempunyai kemampuan untuk merusak atau menghambat mikroorganisme patogen spesifik (PELCZAR dan CHAN, 1958).
Pada pengujian clear zone ini jenis antibiotik yang digunakan adalah Cloramfenicol, Clindamycin, Cepadrocsil, Tetracyclin, Erytromycin, Amoxilin, Lyncomycin, Rifampisin dan Tiamphenicol. Masing-masing dengan dosis 250 mg dalam 1 ml aquades. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Cloramfenicol

Setelah dilakukan uji clear zone maka didapatlah hasil pengukuran yakni zona hambatan yang terbentuk dengan jarak yang terpanjang yakni 2 cm dan jarak terpendek yakni 1,8 cm.
Maka setelah dihitung dan diukur zona hambatan maka didapat:
2 + 1,8 3,8 1,9 cm
2 2
2. Clindamycin
Untuk pengujian antibiotik berikutnya yakni Clindamycin didapatlah hasil pengukuran yakni zona hambatan yang terbentuk dengan jarak yang terpanjang 2cm dan jarak terpendek yakni 1,5 cm.
Maka setelah dihitung dan diukur zona hambatan yang dihasilkan yakni:
2 + 1,5 3,5 1,75 cm
2 2
3. Cepadrocsil
Pada pengujian antibiotik Cepadrocsil tidak terlihat adanya zona hambatan yang terjadi.
4. Tetracyclin
Sedangkan pada antibiotik Tetracyclin zona hambatan yang terbentuk dengan jarak yang terpanjang yakni 0,4 cm dan jarak terpendek yakni 0,2 cm.
Sehingga zona hambatan yang dihasilkan adalah:
0,4 + 0,2 = 0,6 0,3 cm
2 2
5. Erytromycin

Pada Erytromycin zona terpanjang yakni 1,5 cm dan yang terpendek 1 cm.

Zona hambatan yang dihasilkan adalah:
1,5 + 1 = 2,5 1,25 cm
2 2
6. Amoxilin

Pada antibiotik Amoxilin zona terpanjang yang dihasilkan adalah 1 cm dan yang terpendek yakni 0,7 cm.

Maka zona hambatan yang dihasilkan yakni :

1 + 0,7 = 1,7 0,85 cm
2 2
7. Lyncomycin
Sedangkan pada antibiotik Tetracyclin zona hambatan yang terbentuk dengan jarak yang terpanjang yakni 2 cm dan jarak terpendek yakni 1,5 cm.
Sehingga zona hambatan yang dihasilkan adalah:
2 + 1,5 3,5 1,75 cm
2 2
8. Rifampisin
Untuk antibiotik Rifampisin zona hambatan yang terbentuk dengan jarak yang terpanjang yakni 1,8 cm dan jarak terpendek yakni 1 cm.
Sehingga zona hambatan yang dihasilkan adalah:
1 + 1,8 = 2,8 1,4 cm
2 2
9. Tiamphenicol
Dan yang terakhir yakni antibiotik Tiamphenicol zona hambatan yang terbentuk dengan jarak yang terpanjang yakni 2 cm dan jarak terpendek yakni 1,5 cm.
Sehingga zona hambatan yang dihasilkan adalah:
2 + 1,5 3,5 1,75 cm
2 2
Tabel 2: Urutan Zona Hambatan antibiotik terhadap bakteri
NO
ANTIBIOTIK
BENTUKAN ZONA HAMBATAN
TOTAL ZONA HAMBATAN
(Cm)
ZONA TERPANJANG
(Cm)
ZONA TERPENDEK
(Cm)
1
Cloramfenicol
2
1,8
1,9
2
Clindamycin
2
1,5
1,7
3
Amoxilin
2
1,5
1,7
4
Tiamphenicol
2
1,5
1,7
5
Rifampisin
1
1,8
1,4
6
Erytromycin
1,5
1
1,2
7
Lyncomycin
1
0,7
0,8
8
Tetracyclin
0,4
0,2
0,3
9
Cepadrocsil
-
-
-
Dari tabel terlihat bahwa cloramfenicol memiliki daya hambat yang tinggi terhadap pertumbuhan bakteri gram negatif dari pada antibiotik yang lain.
V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian sederhana ini dapat disimpulkan bahwa dari beberapa anti biotik yang dilakukan uji clear zone, maka anti biotik Cloramfenicol terlihat memiliki daya hambat yang lebih besar terhadap pertumbuhan bakteri gram negatif dari pada antibiotik lain.
Sehingga dari sini dapat sedikit tergambar bahwa bakteri gram negatif pada ginjal ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) yang dominan diberi pakan usus ayam lebih sensistifitas terhadap antibiotik Cloramfenicol.
5.2. Saran
Penelitian sederhana ini sifatnya hanya melihat sensitifitas bakteri terhadap beberapa antibiotik dalam skala labor. Oleh karena itu penulis menyarankan agar perlu adanya penelitian lagi untuk melihat pula tingkat kematian ikan dengan melakukan uji LD50 sehingga dapat diketahui seberapa besar dosis yang diperlukan guna mengobati ikan yang sakit akibat serangan bakteri gram negatif tersebut.
Dikarenakan terbatasnya dana, maka akan lebih baik jika penelitian berikutnya dapat dilakukan kelanjutan untuk identifikasi spesifikasi jenis bakteri apa yang menyerang ginjal ikan Lele dumbo (Clarias gariepinus) yang dominan diberi pakan tambahan berupa usus ayam ini.
DAFTAR PUSTAKA
AFRIANTO dan LIVIAWATI, E., 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ikan. Kanisius. Jakarta. 89 hal.
LUKISTIOWATI, I., 2000. Petunjuk Umum Cara Isolasi dan Identifikasi Bakteri Patogen Pada Ikan Air Tawar. Diktat. Bahan Bacaan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 53 hal (tidak diditerbitkan).
LUKISTIOWATI, I., 2005. Teknik Pemeriksaan Penyakti Ikan. Unri press. Pekanbaru. 38 hal.
LUKISTIOWATI, I.,et.al. 2005. Diktat dan Penuntun Praktikum Bahan Bacaan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru. 22 hal (tidak diditerbitkan).
PELCZAR, M. Z. and R. D. REID. 1958. Microbiologi. Mc Graw Hill Book Co, inc, New York. 6125 p.
RAHARJO, 1994. Budidaya Ikan Jaring Terapung. Penebar Swadaya Jakarta.
SACHLAN, M. 1952. Notes on Parasites of Fish Water in Indonesia. Cont. Ind. Fish. Res. Stat. 2:1-60.
SOETOMO, M. 1990. Budidaya Udang Windu, Sinar Biru, Bandung. 148 hal.
TASLIHAN, A. 1995. langkah pengelolaan udang di tambak. Balai budidaya air payau jepara. 101 hal (tidak diterbitkan).
YASSIN, M. C. 1991. Penyakit Udang Dan Pengendaliannya Dalam Treining Pegawai Tambak Udang PT. Charen Pokhpand Indonesia, Stabat Sumut, 17. Hal. (tidak diterbitkan).

Postingan populer dari blog ini

Jadwal Kapal Roro dari Tanjung Balai Karimun Tujuan ke Beberapa Daerah

Jadwal Kapal Roro dan harga tiket dari Dabo Singkep Tujuan ke Batam